7 Jenis Kekerasan Berbasis Gender (dan Karakteristiknya)

Pembaharuan Terakhir: Februari 29, 2024
penulis: y7rik

Kekerasan berbasis gender merupakan masalah serius dan berulang dalam masyarakat kita, yang terwujud dalam berbagai bentuk dan konteks. Terdapat tujuh jenis utama kekerasan berbasis gender, masing-masing dengan karakteristik spesifik dan dampak yang menghancurkan bagi kehidupan korban. Penting untuk mengenali dan memahami jenis-jenis kekerasan ini agar dapat memeranginya dan melindungi mereka yang terdampak. Dalam artikel ini, kita akan membahas tujuh jenis kekerasan berbasis gender dan karakteristiknya masing-masing.

Temukan tujuh jenis kekerasan dan karakteristik spesifiknya di sini.

Kekerasan berbasis gender merupakan masalah serius yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Ada berbagai bentuk kekerasan yang dapat dilakukan terhadap perempuan, dan penting untuk mengenalinya agar dapat memeranginya secara efektif. Dalam artikel ini, kami akan membahas tujuh jenis kekerasan berbasis gender dan karakteristik spesifiknya.

1. Kekerasan fisik: Melibatkan agresi fisik, seperti memukul, menendang, mendorong, dan bentuk kekerasan lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan cedera serius atau bahkan kematian.

2. Kekerasan psikologis: Ditandai dengan penghinaan, ancaman, pemerasan emosional, dan kontrol berlebihan oleh pelaku. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan psikologis yang mendalam pada korban.

3. Kekerasan seksual: Termasuk pemerkosaan, pemaksaan seksual, pelecehan seksual, dan segala bentuk kekerasan seksual lainnya. Korban dipaksa melakukan tindakan seksual di luar kehendaknya.

4. Kekerasan patrimonial:Terdiri dari penghancuran aset material milik korban, pengendalian keuangan secara sewenang-wenang, dan segala bentuk kekerasan yang memengaruhi aset orang yang diserang.

5. Kekerasan moral: Melibatkan pencemaran nama baik, fitnah, penghinaan, dan segala bentuk kekerasan lainnya yang menyerang kehormatan dan martabat korban. Hal ini dapat terjadi baik secara publik maupun secara tertutup.

6. Kekerasan institusional: Merujuk pada kekerasan yang dilakukan oleh lembaga atau agen negara, seperti kepolisian, sistem pelayanan kesehatan, dan sistem peradilan, antara lain. Kekerasan ini dapat terjadi melalui pembiaran, diskriminasi, dan kelalaian.

7. Kekerasan simbolikHal ini terwujud melalui simbol dan wacana yang memperkuat ketundukan dan inferioritas perempuan. Hal ini dapat dilihat dalam iklan, acara TV, media sosial, dan media lainnya.

Sangat penting bagi masyarakat untuk menyadari bentuk-bentuk kekerasan ini dan bergerak untuk memeranginya. Kesadaran dan pendidikan sangat penting untuk memastikan rasa hormat dan kesetaraan gender dalam masyarakat kita.

Bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender: pelajari tentang berbagai jenis agresi terhadap perempuan.

Kekerasan berbasis gender merupakan masalah serius yang memengaruhi ribuan perempuan di seluruh dunia. Penting untuk mengenali dan memahami berbagai jenis agresi yang dihadapi perempuan agar dapat memeranginya dan melindungi korban. Berikut 7 jenis kekerasan berbasis gender yang paling umum beserta karakteristiknya:

1. Kekerasan fisik:

Kekerasan fisik adalah bentuk agresi yang paling nyata dan umum terhadap perempuan. Kekerasan fisik melibatkan tindakan apa pun yang menyebabkan rasa sakit atau cedera fisik, seperti memukul, menendang, mendorong, dan mencekik. Korban kekerasan fisik seringkali juga mengalami kekerasan emosional dan verbal.

2. Kekerasan psikologis:

Kekerasan psikologis lebih halus, tetapi tidak kalah berbahaya. Kekerasan ini mencakup ancaman, penghinaan, kontrol berlebihan, isolasi, dan manipulasi emosional. Korban kekerasan psikologis sering kali mengalami harga diri rendah, kecemasan, dan depresi.

3. Kekerasan seksual:

Kekerasan seksual mencakup segala tindakan seksual nonkonsensual, seperti pemerkosaan, pemaksaan seksual, dan pelecehan seksual. Korban kekerasan seksual seringkali menghadapi trauma mendalam dan kesulitan mempercayai orang lain.

4. Kekerasan ekonomi:

Kekerasan ekonomi terjadi ketika pelaku mengendalikan akses korban terhadap sumber daya keuangan, sehingga menghambat kemandirian finansial mereka. Hal ini dapat mencakup melarang korban bekerja, menahan uang, dan mencegah akses terhadap barang-barang material.

5. Kekerasan institusional:

Kekerasan institusional terjadi ketika institusi gagal melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender, atau ketika institusi tersebut melanggengkan praktik diskriminatif dan seksis. Hal ini dapat mencakup kurangnya kebijakan untuk melindungi korban kekerasan, atau impunitas bagi pelaku.

6. Kekerasan simbolik:

Kekerasan simbolik melibatkan reproduksi stereotip gender dan naturalisasi ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat dalam wacana misoginis, iklan seksis, dan representasi gender stereotip di media.

7. Kekerasan digital:

Kekerasan digital adalah bentuk agresi yang sedang berkembang terhadap perempuan yang terjadi secara daring dan melalui media sosial. Hal ini dapat mencakup pengiriman pesan yang mengancam, penyebaran gambar intim tanpa persetujuan, dan pengendalian paksa terhadap aktivitas daring korban.

Mengenali dan memerangi segala bentuk kekerasan berbasis gender sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraan perempuan di seluruh dunia. Pendidikan, kesadaran, dan intervensi adalah kunci untuk mengakhiri masalah ini dan mendorong kesetaraan gender.

Terkait:  Apa itu kekerasan perwakilan?

Ciri-ciri utama kekerasan: apa yang perlu Anda ketahui tentang topik ini.

Kekerasan berbasis gender merupakan masalah serius yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Terdapat berbagai jenis kekerasan berbasis gender, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Penting untuk memahami karakteristik ini agar dapat mengidentifikasi dan memerangi kekerasan berbasis gender secara efektif.

Salah satu jenis kekerasan berbasis gender yang paling umum adalah kekerasan fisik, yang melibatkan agresi fisik seperti memukul, menendang, dan mendorong. Jenis lainnya adalah kekerasan psikologis, yang mencakup ancaman, penghinaan, dan pengendalian emosi. Kekerasan seksual juga merupakan bentuk kekerasan berbasis gender dan dapat mencakup pemerkosaan, pemaksaan seksual, dan pelecehan seksual.

Lebih lanjut, terdapat jenis-jenis kekerasan berbasis gender lain yang kurang dikenal, seperti kekerasan properti, yang melibatkan penghancuran harta benda korban, dan kekerasan moral, yang terwujud melalui pencemaran nama baik dan fitnah. Kekerasan institusional juga merupakan masalah, yang terjadi di lembaga-lembaga seperti sekolah, rumah sakit, dan penjara.

Penting untuk ditegaskan bahwa kekerasan berbasis gender tidak terbatas pada kekerasan fisik dan dapat bermanifestasi dalam berbagai cara. Sangat penting untuk mewaspadai tanda-tanda kekerasan dan melaporkan segala bentuk agresi. Kesadaran dan edukasi sangat penting untuk memerangi kekerasan berbasis gender dan mendorong hubungan yang sehat dan setara antara laki-laki dan perempuan.

Asal usul kekerasan berbasis gender: faktor apa yang menyebabkan masalah ini?

Asal-usul kekerasan berbasis gender itu kompleks dan beragam, melibatkan berbagai faktor penyebab. Penting untuk dipahami bahwa kekerasan berbasis gender tidak disebabkan oleh satu penyebab tunggal, melainkan oleh kombinasi berbagai elemen yang saling terkait dan memperkuat.

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan berbasis gender adalah ketidaksetaraan kekuasaan antara pria dan wanita dalam masyarakat. Tradisi patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan dan perempuan sebagai pihak yang tunduk dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kekerasan. Lebih lanjut, kurangnya pendidikan tentang kesetaraan gender dan pelestarian stereotip yang merugikan juga memainkan peranan penting.

Faktor penting lainnya adalah kurangnya akses terhadap sumber daya dan layananSebagai tempat penampungan bagi perempuan dalam situasi kekerasan, perhatian psikologis e dukungan yuridisKurangnya kebijakan publik yang efektif untuk mencegah dan menanggulangi kekerasan berbasis gender juga turut andil dalam berlanjutnya masalah ini.

Sebagai tambahan naturalisasi kekerasan dan kurangnya pelaporan Kurangnya rasa hormat korban atas tindakan mereka juga merupakan faktor pemicu kekerasan berbasis gender. Korban seringkali menderita dalam diam karena takut akan pembalasan atau karena mereka yakin tidak akan ditanggapi serius oleh pihak berwenang.

7 Jenis Kekerasan Berbasis Gender (dan Karakteristiknya)

Kekerasan berbasis gender dapat terwujud dalam berbagai cara, dan penting untuk mengidentifikasi berbagai jenisnya agar dapat memeranginya secara efektif. Tujuh jenis kekerasan berbasis gender yang paling umum adalah:

1. Kekerasan fisik: melibatkan agresi fisik yang menyebabkan rasa sakit, cedera, atau kematian.

2. Kekerasan psikologis: ditandai dengan ancaman, penghinaan, pemerasan emosional, dan kontrol berlebihan terhadap korban.

3. Kekerasan seksual: termasuk pemerkosaan, pemaksaan seksual, pelecehan seksual, dan bentuk kekerasan seksual lainnya.

4. Kekerasan Patrimonial: terjadi ketika penyerang merusak properti korban, mencegah akses mereka ke sumber daya keuangan, atau mengendalikan aset mereka dengan cara yang kasar.

5. Kekerasan moral: terdiri dari pencemaran nama baik, fitnah, penghinaan, dan bentuk kekerasan verbal lainnya yang menyerang kehormatan dan martabat korban.

6. Kekerasan institusional: terjadi ketika lembaga gagal melindungi korban kekerasan berbasis gender atau melestarikan praktik diskriminatif yang memicu kekerasan.

7. Kekerasan simbolik: itu adalah kekerasan yang terwujud melalui simbol, gambar, dan wacana yang memperkuat stereotip gender dan hierarki kekuasaan.

Sangat penting untuk memerangi semua jenis kekerasan berbasis gender ini dan mempromosikan budaya saling menghormati, kesetaraan, dan antikekerasan dalam masyarakat kita.

7 Jenis Kekerasan Berbasis Gender (dan Karakteristiknya)

Seorang wanita tiba di rumah sakit karena serangkaian cedera Cedera mata, luka bakar, goresan di punggung, pergelangan tangan patah, kerusakan pada saluran genital, riwayat kunjungan ke rumah sakit karena dugaan terjatuh… Meskipun dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, keberadaan faktor-faktor ini secara keseluruhan menunjukkan adanya kekerasan berbasis gender.

Kekerasan jenis ini merupakan masalah yang masih ada di masyarakat saat ini dan telah merenggut banyak nyawa, terbunuh di tangan pasangannya. Namun, kekerasan berbasis gender tidak terbatas pada agresi fisik. Ada beberapa jenis kekerasan berbasis gender , yang merugikan dan merusak situasi seseorang karena jenis kelaminnya.

Terkait:  5 Hal yang Harus Anda Ketahui Sebelum Mempelajari Psikologi Kriminal

Konsep kekerasan berbasis gender

Kekerasan berbasis gender (atau kekerasan seksis, menurut sumber lain) mengacu pada semua jenis kekerasan yang melanggar kesejahteraan fisik, psikologis, atau relasional seseorang karena gender atau identitas gendernya. Agresi tersebut digunakan secara sengaja, melalui kekerasan fisik, atau dengan tujuan melukai, memaksa, membatasi, atau memanipulasi orang yang menjadi korban kekerasan.

Kekerasan jenis ini dapat menimbulkan dampak yang menghancurkan bagi korbannya. Secara fisik, cedera serius dapat terjadi, yang mengakibatkan kecacatan, koma, atau bahkan kematian. Secara psikologis, orang yang mengalami kekerasan berbasis gender seringkali tidak dapat melaporkannya, seringkali karena takut akan dampak buruk bagi diri mereka sendiri atau orang yang mereka cintai, adanya ketidakpercayaan, atau keyakinan bahwa mereka tidak akan didukung.

Korban juga sering merasa bersalah atau bertanggung jawab atas situasi tersebut, atau takut akan penderitaan orang lain (misalnya, di hadapan anak-anak). Tergantung pada jenis pengasuhan atau lamanya korban dimanipulasi, mereka mungkin menganggapnya sebagai perilaku normal dan/atau merasa pantas menerimanya.

Penyebab

Pelaku agresi biasanya bertindak didorong oleh keinginan untuk berkuasa dan mendominasi dan sering dipengaruhi oleh stereotip gender Umumnya, di balik semua ini, terdapat perasaan tidak aman dan rendah diri yang tergoda untuk digantikan oleh dominasi dari orang-orang yang dianggap lebih rendah atau tidak mampu dihadapi oleh individu tersebut.

Mungkin juga terdapat harga diri yang berlebihan dengan nuansa narsistik yang menyebabkan hak-hak seseorang dianggap lebih tinggi daripada hak orang lain. Dalam beberapa kasus, dapat ditemukan penyalahgunaan instrumental yang ditujukan untuk tujuan tertentu. Terakhir, kurangnya empati dan/atau impulsivitas yang tidak terkendali dapat memicu agresi.

Berbagai jenis agresi

Ketika kita berbicara tentang kekerasan berbasis gender, kita umumnya berpikir tentang situasi di mana agresi terjadi dalam pasangan. Situasi kekerasan berbasis gender yang paling umum adalah ketika seorang laki-laki melakukan serangkaian kekerasan terus-menerus dan sistematis terhadap seorang perempuan karena perempuan tersebut dianggap inferior atau ingin dikuasainya.

Inilah sebabnya mengapa kekerasan berbasis gender sering disalahartikan dengan kekerasan seksis atau kekerasan terhadap perempuan. Namun, perlu diingat bahwa ada juga laki-laki yang mengalami kekerasan jenis ini dari pasangannya. Lebih lanjut, meskipun kekerasan berbasis gender sering diabaikan karena tidak didasarkan pada jenis kelamin atau identitas seksual, keberadaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada pasangan sesama jenis tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, saat ini, kita perlu membahas lebih dari sekadar kekerasan berbasis gender, yaitu KDRT.

Jenis-jenis kekerasan berbasis gender

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, konsep kekerasan berbasis gender mencakup beragam sikap dan tindakan yang dapat merugikan orang dengan berbagai cara. Lagipula, ada banyak cara untuk merugikan seseorang.

Meskipun tidak selalu dalam semua kasus orang tersebut diserang di semua area, dalam kekerasan gender kita dapat menemukan jenis-jenis kekerasan berikut ini .

1. Kekerasan fisik

Kekerasan berbasis gender yang paling terlihat dan dikenal segala tindakan yang menimbulkan kerugian fisik kepada korban melalui agresi langsung dianggap sebagai kekerasan fisik Kerusakan tersebut mungkin bersifat sementara atau permanen.

Jenis kekerasan ini mencakup pukulan, luka, patah tulang, dan cakaran. Meskipun terkadang dianggap remeh atau terjadi selama pertengkaran, menekan dan mengguncang juga termasuk dalam kategori kekerasan fisik. Ketidakmampuan fisik dapat terjadi akibat konsekuensi dari agresi, dan tergantung pada tingkat kerusakan yang ditimbulkan, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

2. Kekerasan psikologis

Jenis kekerasan ini ditandai karena, meskipun tidak ada agresi pada tingkat fisik, korban dipermalukan, diremehkan dan diserang secara psikologis Serangan ini dapat dilakukan secara langsung dan aktif dalam bentuk penghinaan dan pelecehan, atau secara lebih pasif, merendahkan pasangan tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang diserang.

Kekerasan psikologis meliputi penghinaan, ancaman, dan pemaksaan (dalam beberapa kasus, bahkan ancaman kekerasan fisik terhadap korban atau anggota keluarga), penghinaan, dan devaluasi. Kekerasan psikologis juga membuat korban merasa tidak berdaya, terpaksa melakukan tindakan tertentu, bergantung pada pelaku, merasa bersalah atas kekerasan yang dilakukan, dan pantas dihukum.

Terkait:  Kekerasan seksis pada pasangan muda: data dan analisis

Karena agresi langsung seringkali tidak disadari dalam pesan, banyak korban tidak menyadari perlakuan buruk yang mereka alami dan gagal bertindak melawan pelaku. Dapat diasumsikan bahwa dalam hampir semua kasus kekerasan berbasis gender, terlepas dari jenis atau motifnya, kekerasan psikologis terlibat.

3. Kekerasan seksual

Meskipun, dalam beberapa hal, hal ini dapat dianggap sebagai bagian dari kekerasan fisika Kekerasan seksual merujuk secara spesifik pada situasi-situasi di mana seseorang dipaksa atau dipaksa untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat seksual. terhadap keinginan mereka atau di mana seksualitasnya dibatasi atau dipaksakan oleh orang lain.

Tidak perlu penetrasi atau hubungan seksual. Ini termasuk pemerkosaan, prostitusi paksa, konsepsi atau aborsi paksa, mutilasi alat kelamin, pelecehan seksual, atau sentuhan yang tidak diinginkan, dan lain-lain.

  • Anda mungkin tertarik dengan: “Profil psikologis seorang pemerkosa: 12 sifat dan sikap yang umum”

4. Kekerasan ekonomi

Jenis kekerasan ini didasarkan pada pengurangan dan perampasan sumber daya ekonomi bagi pasangan. atau anak-anak mereka sebagai bentuk pemaksaan, manipulasi, atau dengan tujuan merusak integritas mereka. Memaksa mereka untuk bergantung secara finansial kepada pelaku kekerasan, mencegah korban mengakses pasar kerja melalui ancaman, pemaksaan, atau pengekangan fisik, juga dianggap sebagai bentuk kekerasan.

5. Kekerasan Patrimonial

Kekerasan patrimonial dianggap sebagai perampasan atau penghancuran objek, barang dan properti. korban kekerasan dengan tujuan mendominasi atau menyebabkan kerugian psikologis. Dalam banyak hal, produk-produk ini merupakan hasil kerja keras selama puluhan tahun, dan penghancurannya merupakan cara untuk menunjukkan bahwa semua upaya tersebut sia-sia. Namun, perlu dicatat bahwa serangan-serangan ini dapat memengaruhi orang lain secara bersamaan, terutama tetangga.

6. Kekerasan sosial

Kekerasan sosial didasarkan pada pembatasan, pengendalian dan induksi isolasi sosial terhadap seseorang Korban dipisahkan dari keluarga dan teman-temannya, sehingga mereka kehilangan dukungan sosial dan terasing dari lingkungan mereka. Terkadang, korban diadu dengan lingkungan, yang menyebabkan korban atau lingkungannya memilih untuk menonjol.

Misalnya, serangan terhadap fasad rumah sangat khas untuk jenis kekerasan ini, karena serangan tersebut memungkinkan terciptanya tanda-tanda yang terlihat di seluruh dunia bahwa korban pantas diserang di depan mata.

7. Kekerasan tidak langsung

Sejumlah besar pasangan yang mengalami kekerasan berbasis gender memiliki anak Seringkali, pelaku kekerasan memutuskan untuk mengancam, menyerang, dan bahkan membunuh anak-anak tersebut untuk menyakiti pasangan atau mantan pasangannya.

Jenis kekerasan ini disebut kekerasan tidak langsung, yang juga mencakup kerugian yang dialami anak-anak akibat menyaksikan kekerasan antara orang tua. Dampak psikologis diupayakan melalui kontrol, penaklukan, dan serangan terhadap orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam konflik.

Waspada: Kekerasan Berbasis Gender tidak hanya terjadi di dalam pasangan

Ketika kita memikirkan kekerasan berbasis gender, hal pertama yang terlintas di benak kita adalah adanya kekerasan dalam pasangan. Namun, kekerasan berbasis gender tidak terbatas pada lingkungan pasangan; kekerasan ini dapat terjadi di berbagai situasi tanpa perlu melibatkan pasangan. Lembaga, keluarga, dan masyarakat secara umum juga bisa menjadi tempat dimana timbul situasi kekerasan berbasis gender, seperti yang sebelumnya.

Perlu dilakukan upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran warga negara, memberikan pendidikan tentang berbagai aspek seperti toleransi terhadap keberagaman, persamaan hak dan kesempatan, serta pendidikan emosional, guna mencegah munculnya kembali kekerasan berbasis gender.

Referensi bibliografi:

  • Durán, M. (2004). Analisis feminis-hukum terhadap Undang-Undang Organik tentang Langkah-Langkah Perlindungan Komprehensif terhadap Kekerasan Berbasis Gender. Pasal 14. Perspektif gender. Buletin Informasi dan Analisis Hukum. Institut Perempuan Andalusia.
  • Kilmartin, C; Allison, J.A. (2007). Kekerasan laki-laki terhadap perempuan: teori, penelitian, dan aktivisme. Routledge
  • Undang-Undang Organik tentang Tindakan Perlindungan Komprehensif terhadap Kekerasan Berbasis Gender, tanggal 28 Desember 2004, BOE tanggal 29 Desember 2004.
  • Lorente, M. (2001). Suami saya memukuli saya seperti biasa. Agresi terhadap perempuan: realitas dan mitos. Ares y Mares, Editorial Crítica, Madrid.
  • Pérez, JM; Montalvo, A. (2010). Kekerasan berbasis gender: analisis dan pendekatan terhadap penyebab dan konsekuensinya. Kekerasan berbasis gender: pencegahan, deteksi, dan perawatan. Kelompok redaksi.